Rabu, 11 Juni 08 - oleh : Si Gun
Sudah terbiasa berprestasi sejak kecil, Helmy Yahya kini masuk ke gelanggang politik dengan menjadi calon wakil gubernur Sumatera Selatan. Simak penuturannya ketika berwawancara dalam perjalanan dari acara pengambilan foto bersama pasangannya Syahrial Oesman menuju Kantor Pusat Partai Keadilan Sejahtera pada awal Juni 2008:
Di Kantor DPP PKS, apa acara Anda?
Kita silaturahmi dengan PKS karena PKS sudah mendukung kita dan menyiapkan acara deklarasi di Palembang. Hari ini kita silaturahmi dengan Presiden PKS Bapak Tifatul Sembiring. Pagi tadi kita juga sudah bersilaturahmi dengan Ketua Umum PPP Pak Suryadharma Ali dan mendapat dukungan luar biasa. Jadi, kini yang mendukung pasangan Syahrial Oesman - Helmy Yahya itu ada 14 partai, termasuk 11 partai kecil yang mencakup sekitar 15 persen suara plus PDI-P, PPP, dan PKS.
Ada singkatan khusus untuk pasangan Syahrial Oesman - Helmy Yahya?
Tidak. Kita berusaha tidak menggunakan singkatan karena menurut saya yang orang marketing, nama Syahrial Oesman dan nama saya itu sudah menjadi brand. Mengapa kita harus membuat brand baru yang harus disosialisasikan lagi. Menurut saya itu hanya kasus saja. Pak Syahrial juga setuju, kenapa harus pakai singkatan begitu? Meng-create brand baru itu buth waktu, mensosialisasikannya juga perlu waktu, sedangkan brand itu sudah ada di nama saya dan nama Pak Syahrial. Orang Sumatera Selatan mana yang tidak kenal dengan kedua nama itu. Ada sih yang mencoba membuat singkatan SOHEH yang artinya seperti hadits sahih, valid. Ada juga yang membuat singkatan Yalmy. Tapi kami sepakat pasangan ini Syahrial Oesman - Helmy Yahya. That’s the brand.
Kilas balik proses menjadi cawagub bagaimana?
Ya saya tidak pernah menyangka. Sampai sebulan lalu saya tidak pernah menyangka bisa menjadi seperti ini karena saya hanya merespon permintaan masyarakat yang sangat luar biasa jumlahnya (sambil menunjukkan telepon selulernya). Masih ada sekitar 600 SMS plus sekitar 800 SMS yang sudah saya hapus yang intinya berisi permintaan agar saya memikirikan Sumatera Selatan. Termasuk orang-orang tua di Jakarta juga mendukung saya dengan alasan, mungkin diperlukan tokoh alternatif, tokoh muda yang bisa memimpin Sumatera Selatan. Trend pemimpin muda ini juga menjadi trend dunia sekarang yang tak dapat mengelak dari perubahan.
Tapi, selebriti yang menjadi pejabat publik juga menjadi trend ya?
Terus terang saya bukan pure selebriti. Helmy Yahya sebagai selebriti itu hanya 10 persen. Orang banyak yang tidak tahu itu, saya birokrat, pegawai negeri, pernah menjadi direktur BUMN, saya punya perusahaan cukup banyak, saya juga akademisi, dan juga pembicara seminar. Tapi saya juga perlu bilang what’s wrong with celebrity? Semua orang punya hak menjadi kepala daerah, sama haknya dengan pengacara, akademisi birokrat, maupun politisi. apalagi kini pemilihannya langsung oleh masyarakat.
Ada kekhawatiran selebriti itu akan sulit menyesuaikan diri dengan style birokrasi. Anda sendiri bagaimana?
Latar belakang saya kan bukan hanya selebriti. Saya ingin mengatakan, orang tua saya mengatakan, dan perjalanan hidup saya mengatakan hanya satu, saya memang sering dihina dari dulu, di-under estimate oleh orang. Filosofi hidup saya, saya tidak akan meng-under estimate orang lain apapun profesinya, berapapun mudanya dia, apapun level pendidikannya. Jangan pernah meremehkan orang lain, coba saja dulu.
Apa yang paling pahit dari penghinaan itu?
Saya berangkat ke dunia kuis pun begitu, dari awal membuat pertanyaan bahkan menyiapkan kursi untuk para penonton. Saya berangkat dari keluarga yang hidupnya memprihatinkan, ayah saya hanya pedagang kaki lima, tidak ada cewek yang mau sama saya. Itulah sebagian hidup saya di masa lalu. Jadi kalau orang ingin melihat kunci sukses saya apa, jawabnya adalah sekolah keprihatinan. Kalau orang Jawa bilang school of soro, kalau wong Plembang, school of saro. Ha ha ha ha ha. Itulah yang membuat saya menjadi besar.
Bagaimana prosesnya Anda sampai di Jakarta?
(Helmy Yahya pernah dilarang ke Jakarta oleh ayahnya ketika menjadi Ketua Ikatan OSIS Sumsel dan duduk di SMA Negeri 1 Palembang) Ya saya datang ke Jakarta pada 1981 tanpa kenal siapapun. Saya dan Tantowi tidak dibekali apapun oleh orang tua. Kita hanya dibekali salat, kehidupan religius yang sangat luar biasa, semangat pantang menyerah.
Tadi Anda menyebut orang tua, sesepuh Palembang, yang memberi support. Siapa itu?
Saya tak perlu menyebut nama. Saya datangi mereka satu per satu memohon support. Malah mereka mendahului dengan memberi support. Ada yang menyatakan, “My, kau tulah yang harus memikirkan daerah. Kalau bukan kau, Tantowi.” Hanya dua nama yang disebut.
Well, adik-kakak (Helmy dan Tantowi) ini sama-sama populer. Apakah ada deal or no deal untuk terjun ke politik lebih dulu?
Yang jelas, kami tak akan pernah bertarung dalam satu playground. Sekarang Mas Tanto pun memutuskan untuk masuk ke dunia politik. Tapi ini keputusan masing-masing. Keluarga saya, ayah saya almarhum juga menyatakan perbedaan pendapat itu adalah hal biasa. Tak ada masalah. Kami akan saling support walaupun mungkin jalannya berlainan. Tanto, saya tahu, akan masuk ke kancah politik nasional.
Bagaimana Anda melihat Helmy Yahya dalam peta politik Sumsel?
Ya ya ya. Saya dianggap sebagai representasi kamu muda. Kita tidak bisa meng-under estimate kaum muda yang jumlahnya lebih dari 50 persen total warga Sumsel. Saya disambut oleh banyak kalangan muda, mahasiswa dan pelajar di sana. Saya juga merepresentasi orang Sumsel yang berasal dari daerah kecil. Orang tua saya dari Ogan Ilir (kabupaten baru hasil pemekaran Ogan Komering Ilir). Di Palembang saya mewakili warga yang berasal dari Seberang Ulu (sisi kanan-selatan Sungai Musi yang pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan dengan kawasan Seberang Ilir, sisi kiri-utara). Banyak sekali yang menitipkan harapan kepada saya. Kembalinya saya ke daerah bukan bermotif apa-apa kecuali untuk mengabdikan pengalaman, pendidikan, kreativitas, network, dan keahlian saya. That’s it.
Lantas seperti apa Sumatera Selatan di mata Anda?
Potensinya luar biasa. Kalau penanganannya baik, Sumsel itu bisa menjadi provinsi terkaya di Indonesia. Kita punya minyak, gas, batu bara, sawit, karet, kopi, pariwisata, penduduk yang keras tetapi kompak dan welcome terhadap investor. Yang kurang itu kualitas sumber daya manusia, kita akan perhatikan itu, kita create. Yang diperlukan Sumsel adalah manajemen dan entrepreneurship, dan itulah yang akan saya bawa ke sana.
Pak Syahrial menurut Anda seperti apa?
Pak Syahrial itu adalah birokrat berpengalaman, dari nol sampai menjadi gubernur. Beliau sangat mengenal Sumsel karena sudah lima tahun menjadi gubernur dan performs pula. Anda lihat Sumsel take off bagus sekali, menjadi lumbung pangan dan lumbung energi. Tapi jangan lupa kehadiran saya membawa sesuatu yang mungkin belum beliau miliki yaitu entrepreneurship, knowledge, skill, dan network mudanya. Saya pikir ini adalah kombinasi yang sangat menarik.
Apakah ada deal tertentu dengan Pak Syahrial?
Saya sudah bilang kepada beliau, saya tidak mau menjadi wagub jika hanya sebagai ban serep atau vote getter. Saya minta itu ketika beliau meminta saya menjadi seorang wagub, dan beliau deal. Beliau bilang OK My. Saya bilang saya membutuhkan playground, arena bermain. Ini memang dunia yang baru buat saya, tapi saya punya bekal. Saya meraih gelar S-2 dari Amerika, saya punya entrepreneurship, dan saya punya bekal managerial skill karena pernah menjadi direktur BUMN. Saya juga akademisi dan mengajar di beberapa perguruan tinggi. Saya membawa sesuatu untuk digabungkan, dipersembahkan, untuk mendukung Syahrial Oesman. Jadi, bidang ekonomi mungkin akan lebih banyak menjadi urusan saya.
Modal dasar Sumsel sebenarnya dapat membuat provinsi ini tumbuh lebih cepat. Tapi koq kesannya lambat? Anda punya resepnya mungkin?
Resep saya cuma satu: try me. Muda dan punya networking. Kombinasi dengan Pak Syahrial yang menguasai database dan isu daerah saya pikir akan dapat memenuhi harapan masyarakat Sumsel. Semoga harapan masyarakat Sumsel bisa kita wujudkan.
Apakah ada kampanye negatif terhadap Anda terkait pemilihan gubernur Sumsel?
Saya tak akan pernah masuk ke area itu. Saya menjadi besar karena melahirkan karya. Kita tak peduli dengan kampanye negatif. Saya dan Tantowi itu levelnya bukan hanya nasional, melainkan juga regional. Itu kita capai dengan perjuangan luar biasa, bukan dengan menjatuhkan orang lain. Dalam hidup memang saya suka membuat benchmarking. Ada orang yang menjadi target untuk saya lampaui, tapi saya tak pernah menjatuhkannya. Saya bekerja keras untuk melampaui orang yang ingin saya lewati. Itu filosofi saya, sangat positif dan tak pernah menghalangi siapapun. Saya sangat menyukai kompetisi.
Anda punya guru politik?
Walaupun saya tak pernah nyemplung langsung di dunia politik, saya empat tahun menjadi MC berbagai partai politik. Saya belajar banyak dan mendapat brief. Pak Taufiq Kiemas salah satunya. I’m a fast learner. Buktinya, saya seorang akuntan tapi bergerak di dunia kreatif. How can I do that? Because I learn. Saya fasih berbicara basket, padahal jarang main basket. Saya juga menjadi juru lelang yang paling sering mengelola lelang lukisan di Indonesia. Apakah saya pernah melukis? Tidak pernah. Tapi saya terus belajar.
Dukungan keluarga?
Saya tak akan pernah melakukan ini kalau keluarga tak pernah mendukung. Saya berharap apa yang saya lakukan ini menjadi kebanggaan buat keluarga. Kalau hanya masalah kenyamanan hidup, hidup saya sudah sangat nyaman. Karir saya sedang di puncak, perusahaan saya juga sedang di puncak. Saya hidup penuh dengan suka cita, penuh puji-pujian, popularitas, dan kemudahan. Tapi saya tak mau egois. Kini saya berada di convert zone (wilayah peralihan). Tapi, umur saya sebenarnya tidak muda lagi. Ada panggilan untuk menunjukkan tanggung jawab ketika banyak orang meminta saya. Kalau saya menolak, saya tidak bersyukur kepada Tuhan. Itu sebabnya dengan bismillah saya ikuti proses politik ini.
Anda punya hotel ya di Palembang?
Masih developed (dibangun). Belum tahu kapan dilaunching, apalagi begitu saya menjadi wagub, tidak boleh berbisnis. Aturannya begitu. Jadi, mungkin saya sedang dalam proses mengalihkan perusahaan-perusahaan saya ke orang lain. Saya hanya pemegang saham dan tidak boleh aktif di perusahaan saya.
Bidang bisnis utama Anda apa sebenarnya?
Perusahaan saya entertainment, production house, tambang, restoran juga ada.
Apakah tak berpikir ulang untuk memilih antara menjadi wagub atau menjadi selebriti?
Ini sudah putusan final, point of no return. Masa sudah begini saya mundur? Saya ini kalau iya, iya. Kalau tidak, tidak. Itu sebabnya saya perlu empat tahun sebelum benar-benar masuk ke wilayah politik.
Target hidup anda sebenarnya apa?
Saya ingin meninggalkan jejak, ingin memberikan kebanggan untuk keluarga dan warga saya. Kalau saya sudah tidak ada, masih bisa dikenang. Dulu pernah hidup seorang Helmy Yahya yang pernah melahirkan lebih dari 100 karya televisi. Ya yang begitulah.
Ada juga yang bilang jika Helmy Yahya menjadi Wagub, Sumsel penuh dengan entertainment dan infotainment. Masyarakatnya lebih banyak menari. Komentar Anda?
I’m not celebrity. Selebriti dalam hidup saya hanya 10 persen. Kalau menari, menari pun aku nggak bisa. Tapi tak perlu tanggapi juga. Banyak sekali orang yang tak mengenal saya sesungguhnya. Tapi, kalau tujuh juta rakyat Sumsel semuanya menari, itu prestasi luar biasa. artinya mereka happy kan? Ha ha ha ha ha. O ya, kemarin ini saya malah mendapat SMS. Isinya, “Sebentar lagi Tukul yang mau jadi gubernur.” Eit jangan under estimate seseorang. Apalagi Tukul. Tukul itu sangat pintar, jangan dianggap Tukul itu bodoh. Spontanitasnya sangat luar biasa. Siapa tahu dia benar kalau memimpin. Helmy Yahya juga begitu, banyak yang belum mengenal siapa saya sesungguhnya.
Kalau 10 persen saja porsi selebriti, yang dominan dalam kehidupan Anda apa?
Entrepreneurship. Jumlah perusahaan saya puluhan, persisnya sedang dihitung termasuk yang kecil-kecil.
Menurut Anda, apa persamaan dan perbedaan dunia selebriti dibandingkan dengan politik?
Ini dunia yang tampaknya sangat berjauhan. Tapi ada anekdot banyak selebriti menjadi politisi dan politisi malah menjadi selebriti. Ini persinggungan yang menarik. Tapi ini adalah hak semua orang, untuk menjadi politisi maupun selebriti.
Ada selebriti yang menjadi politisi kemudian kecewa, seperti almarhum Sophan Sophiaan. Ini bagaimana?
Ya ya ya. Memang dunia selebriti itu sangat menyenangkan dan lebih sincere, lebih apa adanya. Penuh dengan penghargaan-penghargaan, apresiasi. Saya mendengar betul waktu Sophan Sophiaan almarhum keluar dari dunia itu: “Gua nggak bisa pikir. Kemarin kita puji-puji itu tokoh, sekarang kita semua mau jatuhin itu tokoh. Tak masuk akal.” Dalam dunia seni, itudunia yang lembut, sangat bermain dengan perasaan. Sedangkan politik sangat keras sekali. Tidak ada kawan atau musuh abadi dalam politik, yang abadi itu adalah kepentingan. Saya juga tidak tahu apakah saya bisa atau tidak. Tapi jujur saya berusaha di dunia yang sangat baru. Oleh sebab itu saya tak terlalu happy diperkenalkan sebagai selebriti karena saya ini bukan selebriti seperti yang dianggap orang kebanyakan. Selebriti kata orang itu harus keren, minimal tinggi 170 cm, dada bidang, perutnya six-packs, rahangnya kotak, I’m not. Saya bukan sama sekali. Saya diterima di dunia selebriti karena karya-karya saya. Itu yang harus orang akui.
Pasangan Syahrial Oesman - Helmy Yahya ini menurut perhitungan awam akan menang. Tapi, bagaimana kalau kalah?
Tidak apa-apa juga. Hidup ini ada risiko. Masa arisan mau mengocok terus? Tapi saya tak akan pernah masuk ke bidang yang saya yakin tak akan menang. Kalau pun kalah ya tidak apa-apa. Perusahaan masih banyak, Jual iwak bae di Plembang. Ha ha ha ha ha. Saya ini orang yang sangat konservatif karena latar belakang akuntan, semua risiko diperhitungkan.
Idola politik Anda saat ini siapa?
Barack Obama.
Kenapa?
Sederhana saja: Change. Itu juga yang saya bawa. Kita tak bisa menyetop perubahan. Pemimpin-pemimpin muda itu fenomena menarik.
Kalau Anda menyukai perubahan, perubahan Sumatera Selatan kelak seperti apa?
Saya belum boleh kampanye. Pokoknya target kita mengelola sumber daya untuk kesejahteraan Sumsel.
Apa bisa lebih cepat?
Kita harus mengikuti prosedur. Toh banyak orang Sumsel yang pintar-pintar. Kita akan panggil mereka untuk memikirkan Sumatera Selatan untuk berinvestasi, untuk menghimpun ide dan menerapkannya sehingga kita akan lebih cepat take off. Kita juga ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan berkualitas. Yang penting masih berada dalam koridor administrasi keuangan negara.
REKAM JEJAK
Nama: Helmy Yahya MPA Akt
Lahir: Palembang, 6 Maret 1963
Status: Menikah dengan Harfansi Yahya
Dikaruniai tiga anak:
Rendy Faraitody Yahya
Amerigo Salim Yahya
Saskia Rachelly Yahya
Rahma Azzura Yahya
Pendidikan
SD Negeri 115 Palembang, 1975 (lulusan terbaik)
SMP Negeri 2 Palembang, 1978 (lulusan terbaik 2)
SMA Negeri 1 Palembang, 1981 (lulusan terbaik)
Sekolah Tinggi Akuntansii Negara Program Diploma III, 1984 (lulus ranking 1)
STAN Program Diploma IV, 1990 (lulus ranking 1)
Master of Professional Accounting, University of Miami, Florida, AS GPA 3,6 (Agustus 1991-Juni 1992)
Pengalaman Kerja
1. CEO PT Triwarsana, Production House Non-drama dengan lebih dari 80 program
2. CEO Marvin Reeves Indonesia, agen properti internasional
3. Chairman Emporium Indonesia, event organizer
4. Ani Sumadi Production (1989-1999)
5. Direktur Pemasaran PT Produksi Film Negara -BUMN Film (2001-2002
6. HERE Management Consultant dengan Renaldi Khasali (2003-2005)
7. Dosen STAN, YAI, dan Perbanas untuk mata kuliah Accounting, Marketing, dan Business Ethics
Penghargaan
1. Panasonic Award untuk Presenter Kuis Favorit 2002
2. Panasonic Award untuk Presenter Reality Show Favorit 2005
3. Tokoh Inspirasi dari Menko Kesra 2006
4. Finalis Pengusaha Muda Sukses 2006
5. Tokoh Paling Kreatif dari Yayasan Kreativitas Indonesia 2005
6. Panasonic Awards untuk Program TV Terbaik
Kuis Joshua (2000-2001)
Main Bersama Joshua (2002)
Siapa Berani (2001-2002)
Uang Kaget (2004)
Bedah Rumah (2005-2006)
7. Memegang 24 rekor Museum Rekor Indonesia (MURI)