Selasa, 29 Juli 08 – oleh : Abu Zahro
Maha suci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS. 17:1
Kita sama-sama tahu bahwa dalam peristiwa Isro Mi’roj ini Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Alloh dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho kemudian naik ke Sidrotul Muntaha (di atas langit ke tujuh) dan bertemu dengan Alloh untuk mendapatkan perintah sholat lima waktu. Dalam perjalanan ini juga Nabi Muhammad SAW diperlihatkan oleh Alloh berbagai tanda-tanda Kebesaran-Nya serta diperlihatkan Surga dan Neraka serta berbagai peristiwa di dalamnya.
Saya di sini tidak akan menceritakan berbagai kejadian dalam peristiwa Isro Mi’roj secara detail. Akan tetapi saya ingin menceritakan hikmah dari ayat di atas serta hikmah dari peristiwa Isro Mi’roj ini, dengan harapan bisa bermanfaat serta diambil hikmahnya oleh para pembaca yang budiman, agar dapat menambah keimanan dan dan meningkatkan amal sholeh.
Dalam ayat yang menceritakan peristiwa Isro Mi’roj ini Alloh memulainya dengan kalimat “Subhaana” atau “Subhaanallooh.” Dalam ajaran Islam kalimat ini digunakan (diucapkan) apabila kita melihat atau mendengar suatu kejadian yang tidak masuk akal (aneh) tetapi hal itu terjadi. Artinya perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia dan hanya bisa dilakukan oleh Alloh SWT. Hali ini menunjukkan bahwa peristiwa Isro Mi’roj ini bukanlah perbuatan Nabi Muhammad SAW akan tetapi “Perbuatan Alloh SWT.”
Selanjutnya dalam ayat di atas Alloh menggunakan kalimat “asro” artinya “menjalankan / memperjalankan” bukan dengan kalimat “saro” yang artinya “berjalan.” Ini sebagai bukti kedua bahwa Alloh-lah yang berbuat (yang punya kemauan) bukan Nabi Muhammad SAW yang berbuat. Hal ini dapat dijadikan sebagai hujjah untuk membantah mereka yang mengingkari peristiwa Isro Mi’roj sebagai peristiwa yang tak masuk akal dan tidak mungkin terjadi. Mereka menganggap bahwa perjalanan Isro Miroj itu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW atas kemauan sendiri.
Mengapa mereka mau berfikir, mengapa mereka tidak memprotes dan menolak peristiwa Nabi Musa AS yang membelah lautan dengan tongkatnya, tidak memprotes peristiwa Nabi Ibrohim AS yang tidak terbakar oleh api, tidak memprotes Nabi Sholeh AS yang mengeluarkan onta dari dalam batu besar dan peristiwa-peristiwa lain yang dilakukan para Nabi. Karena jika mereka mau jujur, mereka ingin berkata bahwa ini adalah perbuatan Alloh yang dianugerahkan kepada nabi-Nya sebagai Mu’jizat untuk membuktikan bahwa mereka adalah Nabi dan Rosul Alloh sekaligus untuk mengalahkan para musuh-musuhnya.
Begitulah dengan peristiwa Isro Mi’roj, ini juga perbuatan Alloh yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Mu’jizat.
Selanjutnya dalam ayat di atas Alloh menggunakan “maf’ul bih-nya” (obyek penderitanya) bukan Muhammad tetapi “bi’abdihi” (hamba-Nya). Mengapa demikian? Kalimat “abdun” (hamba = orang yang mengabdi) biasa digunakan sebagai kalimat yang artinya “satu kesatuan jasad dan ruh” hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Alloh (Isro Mi’roj) itu dengan jasad dan ruhnya, bukan ruhnya saja atau bukan mimpi.
Selanjutnya kalimat “bi’abdihi” (hamba-Nya) menunjukkan suatu derajat tertinggi, karena selama ini memang Nabi Muhammad SAW menjadikan dirinya sebagai hamba Alloh bukan hamba dunia, hamba perut, hamba jabatan, hamba popularitas ataupun hamba wanita. Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah dibujuk oleh kaum kafir Quroisy dengan harta, tahta dan wanita kemudian ditolak oleh Nabi? Nabi menjalankan risalah da’wah Islamiyah-nya semata-mata hanya untuk menunaikan perintah Alloh demi memperoleh ridho-Nya. Inilah sebagai bukti bahwa beliau SAW adalah hamba Alloh, bukan hamba yang lain. Wajar saja kemudian beliau SAW memperoleh kedudukan tertinggi di sisi Alloh dan kemudian dimuliakan dengan menempuh perjalanan Isro Mi’roj ini.
Selanjutnya kalimat “lailan” atinya satu malam, hal ini menunjukkan bahwa betapa Alloh Maha Kuasa karena mampu memperjalankan hamba-Nya dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho serta naik ke langit ke tujuh bahkan di atasnya lagi serta kembali lagi ke bumi hanya dalam waktu satu malam saja. Malam berarti juga gelap gulita tanpa cahaya. Dengan kegelapan maka kita tidak melihat apapun, karena kita bisa melihat hanya dengan cahaya. Maka yang ada seolah menjadi tiada. Maka dalam menempuh perjalanan hidup ini hendaknya kita tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia (harta). Dia indah karena ada cahaya, jika tidak ada cahaya maka tidak ada keindahan.
Hendaknya dalam hidup, hati ini gelap terhadap indahnya dunia tetapi lihatnya cahaya (Nur) Alloh. Kagumilah Alloh dan janganlah kagumi harta benda serta dunia. Karena sesungguhnya dunia dan segala isinya itu adalah tiada. Dia menjadi ada karena diadakan oleh Dzat Yang Maha Ada, dan kelak dunia ini ditiadakan kembali. Lalu mengapa kita terpesona dengan sesuatu yang hakikinya tidak ada dan kelak pun ditiadakan kembali? Mengapa kita tidak terpesona dengan Dzat Yang Maha Ada dan akan Tetap Ada untuk selama-lamanya.
Dalam Al Qur’an Alloh juga banyak menyebutkan kata “malam” lebih dahulu dari kata “siang.” Bukankah sebelum Alloh menciptakan matahari itu artinya kegelapan (malam) baru kemudian setelah Alloh menciptakan matahari ada cahaya (siang)? Dan kelak mataharipun akan dipadamkan kembali, maka semesta akan kembali gelap (malam). Artinya dari ketiadaan dicipta menjadi ada kemudian ditiadakan kembali. Maka dalam kehidupan ini janganlah kita terpesona (tergila-gila) dengan sesuatu yang sebenarnya tiada, ada hanya untuk sementara, kemudian ditiadakan kembali. Janganlah kita menghamba (menjadi budak) kepada harta (dunia) yang tiada, tapi selama perjalanan hidup ini jadilah kita hamba Dzat Yang Maha Ada dan Tetap Ada.
Janganlah kita melihat indahnya dunia, tapi lihatlah bahwa itu semua adalah wujud kekuasaan Alloh, oleh karena itu janganlah mengagumi dunia, tapi kagumilah Alloh. Jika melihat keajaiban, keanehan dan keindahan ucapkanlah “Subhaanallooh” atau “Alhamdulillaah.” Alloh yang kita puji, bukan kekayaan, bukan jabatan, bukan kepandaian, bukan pula kecantikan. Niscaya kita akan selamat dalam menempuh perjalanan hidup ini. Tidak akan tergelincir oleh perbuatan ma’siyat yang terjadi karena terpesona dengan keindahan harta, tahta dan wanita dan semua keindahan itu karena cahaya. Andai tidak ada cahaya, maka tidak akan ada keindahan, dan hati ini tidak akan terpesona oleh dunia dan kita berharap kepada Dzat Yang Menciptakan Cahaya. Maka hakikinya kita berharap kepada Alloh dan ridho-Nya. “Alloohumma anta maqshuudii, wa ridhooka mathluubii.”
Selanjutnya kalimat “Minal Masjidil Haroomi ilal Masjidil Aqsho” (dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho). Kita tahu bahwa Masjidil Harom terletak di Mekkah dan Masjidil Aqsho terletak di Palestina. Mengapa Alloh tidak menyebutkan dari Mekkah ke Palestina? Mengapa Alloh lebih suka menyebutkan dari Masjid ke Masjid? Bahwa perjalanan hidup manusia hendaknya bukan sekedar dari satu tempat ke tempat lainnya, melainkan hendaknya dalam setiap perjalanannya dimulai dari masjid dan diakhiri ke masjid pula.
Ingat kata “masjid” dalam bahasa Arab dalah “isim makan” artinya kata benda yang menunjukkan tempat. “Masjid” artinya “tempat sujud.” Jika kita menjadikan rumah sebagai tempat sujud (sholat) dan kantor juga sebagai tempat sujud, maka jika kita berangkat ke kantor, berarti kita telah menempuh perjalanan dari masjid ke masjid. Begitupun dengan pasar, jika di pasar kita juga bersujud kepada Alloh, maka jika kita pergi ke pasar berarti kita menempuh perjalanan dari masjid ke masjid. Begitulah, dari manapun kita berangkat dan kemanapun kita pergi selama ditempat itu kita mendirikan sholat maka hakikatnya kita menempuh perjalanan dari masjid ke masjid.
Tidak hanya itu, makna masjid (tempat sujud) artinya adalah di tempat itu kita sujud dalam arti tunduk patuh kepada syari’at (aturan) Alloh. Jadi dimanapun kita berada, maka disitu kita menjadi hamba yang mematuhi segala perintah Alloh, baik di rumah, di pasar, di kantor atau di mana saja. Baik dalam berbisnis, dalam bekerja sampai dalam berumah tangga maka hendaknya kita menggunakan aturan yang digariskan oleh Alloh SWT. Maka dalam keadaan itu berarti kita bersujud alias tunduk mematuhi perintah Alloh. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Al ardhu kulluhaa masjidun” (seluruh permukaan bumi ini adalah masjid). Dengan demikian jika selama menempuh perjalanan hidup ini kita tunduk pada aturan Alloh SWT, maka selama itu pula kita telah menempuh perjalanan hidup dari masjid ke masjid.
Selanjutnya Alloh berfirman “Alladzii baaroknaa haulahuu” (yang kami berkahi di sekelilingnya). Secara lughowi Alloh telah memberkahi masjidil Aqsho dan negeri sekitarnya, demikian pula dengan masjidil Harom dan sekitarnya. Apabila hidup kita selalu sujud tunduk patuh kepada Alloh SWT, artinya kita telah menjadikan seluruh permukaan bumi ini sebagai masjid maka hidup kita pun diberkahi Alloh SWT. Segala umur kita, barang milik kita sampai kejadian di sekitar kita, selalu kita gunakan sebagai alat untuk beribadah (tunduk mematuhi) aturan Alloh, maka itu disebut dengan berkah, sebaliknya jika umur ini kita gunakan untuk ma’siyat, maka umur ini tidak berkah. Jika harta yang kita miliki tidak kita gunakan untuk beribadah kepada Alloh SWT, maka harta itu tidak berkah. Begitupun jika peristiwa di sekitar tidak kita sikapi dengan sikap yang baik dan benar menurut aturan Alloh, maka sikap (fikiran dan hati) kita itu jauh dari keberkahan Alloh SWT.
Selanjutnya Alloh berfirman “Linuriyahuu min aayaatinaa” (untuk Kami tunjukkan tanda-tanda kebesaran Kami. Jelas bahwa dalam perjalanan Isro Mi’roj, Nabi Muhammad SAW telah ditunjukkan berbagai tanda-tanda kebesaran (kekuasaan) Alloh SWT. Di sini tidak kami ceritakan apa saja tanda-tanda kebesaran Alloh yang telah ditunjukkan kepada beliau SAW tersebut. Kami hanya ingin mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.
Seseorang yang telah mengabdikan seluruh hidupnya tunduk patuh kepada Aloh SWT, maka dia telah menjadikan dirinya sebagai hamba Alloh, selanjutnya dia telah menjadikan dunia ini sebagai malam yang gelap gulita, dimana dia tidak silau melihat keindahan dunia yang membuatnya lalai kepada aturan Alloh SWT, kemudian dia telah mengadakan perjalan hidup dari masjid ke masjid karena dimanapun dia berada selalu tunduk patuh kepada Alloh SWT sehingga hidupnya diberkahi oleh-Nya. Jika seseorang hidupnya telah diberkahi Alloh alias diridhoi-Nya, maka DIA akan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada hamba tersebut. Dia akan melihat kebesaran Alloh dimana orang lain tak melihatnya (tidak mengerti). Semua yang dilihatnya hanyalah wujud atau bukti tanda kebesaran Alloh SWT semata. Sementara orang lain melihatnya hanya sebagai peristiwa biasa bahkan mungkin hanya sebagai masalah dan problem belaka yang memusingkan otak dan menyesakkan dada.
Orang yang hidupnya telah diberkahi Alloh SWT, melihat adanya kejahatan adalah sebagai bukti kebesaran Alloh SWT. Betapa tidak, jika tidak ada ada kejahatan (kesalahan) lalu apa tgas polisi, apa tugas para da’i, dsb. Dengan adanya kesalahan (kejahatan) itu maka polisi, da’i, guru, orang tua, para mujahid, dll, mereka bisa bekerja, beribadah dan berjihad. Bayangkan jika di dunia ini tidak ada kesalahan dan kejahatan, lalu apa yang bisa diperbuat oleh polisi, guru, da’i, orang tua dan para mujahid? Bukankah ini bukti kebesaran Alloh? Maka orang yang hidupnya diberkahi Alloh dia akan bertanya, “apa yang diperintahkan Alloh kepadaku dalam menghadapi kejahatan ini?” Kemudian dia akan segera berbuat sesuai dengan perintah Alloh tersebut demi menunaikan perintah-Nya dengan penuh ketundukan dan kepatuhan serta keikhlasan. Berbeda dengan dengan mereka yang hidupnya tidak diberkahi Alloh SWT, mereka hanya bisa melihat kesalahan, kebodohan dan kejahatan itu sebagai masalah dan problem yang memusingkan, kemudian dia menyikapinya dengan sikap negatif thingking, buruk sangka, emosi dan akhirnya membuahkan sikap buruk, arogan, otoriter, egois, anarkis dan berbagai sikap buruk lainnya yang tak terkendali.
Lain halnya bagi mereka yang hidupnya diberkahi Alloh SWT, apabila melihat kebodohan, maka ia akan mengajarkan ilmunya serta membimbing dengan penuh kasih sayang, kelembutan, santun, bijaksana, tawadhdhu dan diberikan contoh tauladan yang baik serta mendo’akan mereka yang bodoh agar diberikan ilmu yang manfaat, diberikan hidayah, ampunan serta kesabaran. Sementara dia sendiri berdo’a untuk dirinya agar dijauhkan dari sifat sombong, takabbur, riya, sum’ah, pemarah dan berbagai sifat buruk lainnya sebaliknya juga berdo’a agar diberikan hati yang ikhlas, sabar, tawadhdhu, pemaaf dan berbagai sifat mulia lainnya.
Seorang yang hidupnya diberkahi Alloh SWT, jika melihat wanita cantik, maka ia melihatnya bahwa itu adalah tanda kebesaran Alloh, ia tidak terkagum-kagum dengan kecantikan wanita tersebut, tetapi ia kagum kepada Alloh yang menciptakan wanita cantik itu sehingga dari bibirnya akan meluncur kalimat “Subhaanallooh” ia begitu kagum kepada Alloh yang telah menciptakan keindahan, kemudian ia memuji Alloh bukan memuji wanita itu. Selanjutnya ia berdo’a “ya Alloh, Maha Suci Engkau yang telah menciptakan makhluk begitu indah, maka bagaimana dengan Engkau, pasti jauh lebih cantik dan lebih indak dari ciptaan-Mu ini. Ya Alloh lindungilah hati ini dari ketertarikan dan keterpesonaan terhadap kecantikan wanita itu, tapi jadikanlah hati ini tertarik dan terpesona dengan kecantikan dan keindahan-Mu. Ya Alloh janganlah Engkau jadikan hati ini terlena oleh kecantikan wanita itu, tapi jadikanlah hati ini selalu enang memuji dan mencintai-Mu.”
Begitulah orang yang hidupnya diberkahi Alloh, melihat apapun yang ada di matanya, di fikirannya dan di hatinya, hanyalah melihat kebesaran Alloh. Ia tidak silau dan terpesona dengan yang dilihatnya, akan tetapi terpesona dengan Yang Menciptakannya, sehingga imannya selalu bertambah, ketaatannya selalu bertambah, dan ketaqwaannya selalu meningkat.
Selanjutnya Alloh berfirman “innahuu huwas samii’ul bashiir” (sesungguhnya DIA Maha Mendengar lagi Maha Melihat).
Agar seseorang dapat menjadi hamba Alloh, dapat menjadikan dunia ini malam (gelap) yaitu tidak terpesona dengan dunia, hanya terpesona dengan Alloh, kemudian dapat menjadikan seluruh permukaan bumi ini sebagai masjid alias menempuh perjalanan hidup ini selalu dalam keadaan sujud tunduk patuh kepada aturan Alloh, kemudian hidupnya diberkahi dan dapat melihat tanda-tanda kebesaran Alloh SWT, maka syaratnya dia harus selalu merasakan “Pengawasan” Alloh SWT, karena Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Bukankah kita akan menjadi bersemangat berbuat baik jika dilihat oleh pimpinan kita? Dan bukankah kita akan urung berbuat jahat jika diawasi oleh pimpinan kita? Kita berharap akan mendapat penghargaan dari pimpinan kita jika berbuat baik, itulah sebabnya kita bersemangat jika berbuat baik dilihat oleh pimpinan kita. Demikian pula kita takut akan memperoleh sangsi jika berbuat buruk. Itulah sebabnya kita urung berbuat buruk jika dilihat (diawasi) oleh pimpinan kita, karena malu dan takut.
Pertanyaannya sudahkah kita merasa semangat berbuat amal sholeh, karena Alloh selalu mengawasi kita? Dan sudahkah kita malu berbuat buruk sehingga urung berbuat karena Alloh selalu mengawasi kita? Apabila hal itu sudah bisa kita rasakan dan kita lakukan, maka insya Alloh kita akan dapat merasakan apa yang telah saya jelaskan seperti di atas. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW bersabda “afdholul iimaani an ta’lama annallooha ma’aka haitsu maa kunta” (seutama-utama iman adalah bahwa engkau selalu merasakan bahwa Alloh selalu bersamamu di manapun engkau berada).
Iman yang paling utama alias taqwa adalah jika kita selalu merasakan pengawasan Alloh dimanapun kita berada, sehingga kita akan selalu bersemangat dalam berbuat baik (amal sholeh) dan selalu merasa malu untuk berbuat jahat dan ma’siyat. Maka jadilah kita orang yang baik, sholeh, mu’min dan muttaqi. Orang seperti inilah yang hidupnya selalu diberkahi Alloh dan dapat melihat tanda-tanda kebesaran Alloh.
Alloh SWT berfirman “barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, maka Alloh akan memberikan jalan keluar (dari setiap permasalahannya), dan Alloh akan memberikan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka Alloh akan mencukupi sebala kebutuhannya. Sesungguhnya Alloh menjadikan segala sesuatu itu kadarnya masing-masing. Dan barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, maka menjadikan kemudahan dalam segala urusannya.” QS. 65: 2 – 4.