Bursa calon Gubernur DKI Jakarta mendatang bermunculan. Sejumlah partai sudah mulai mengelus-elus kandidatnya. Fauzi Bowo yang kini masih menjabat Gubernur DKI Jakarta hingga tahun 2012 juga termasuk figure yang masih kuat.
“Kita tidak bisa serta merta menyalahkan Gubernur Fauzi Bowo jika ada kekurangan. Sebab Pak Fauzi sudah bekerja keras untuk membangun Jakarta ini, kalau ada kekurangan ya… ditambal saja, mana yang kurang,” kata Mantan Menegpora Adyaksa Daud saat menjadi pembicara dalam sebuah dialog di Jakarta.
Menurutnya, siapapun gubernur-nya saat ini tak akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan Jakarta secara cepat, baik persoalan kemacetan, banjir maupun yang lainnya.
“Karena itu, kita harus melihat keberhasilan yang ada. Siapapun gubernurnya tidak akan mampu menyelesaikan persoalan Jakarta dalam waktu dua tahun. Pak Fauzi sudah bekerja keras,” ujar Adyaksa Daud yang mengaku sudah ada mendukung menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen.
Partai Golkar dan Partai Demokrat yang beberapa waktu lalu mencalonkan Fauzi Bowo untuk kembali menjabat sebagai gubernur DKI dikabarkan tidak akan lagi mencalonkan Fauzi Bowo sebagai gubernur Jakarta dalam Pemilihan Kepala Daerah 2012 mendatang. Namun Foke, sapaan Fauzi, mengaku belum memikirkan hal ini.
Foke mengatakan akan fokus menjalankan perannya sebagai Gubernur. “Tugas saya adalah jadi gubernur. Dan saya akan coba melaksanakan tugas saya dengan sebaik-baiknya,” kata Foke.
Foke menjelaskan, dia tidak khawatir dengan penarikan dukungan Partai Golkar dan Partai Demokrat. Karena dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang berperan bukanlah partai politik.
“Yang milih nanti bukan partai. Tapi warga DKI Jakarta yang punya hak pilih,” ucap Foke.
Penarikan dukungan Demokrat disampaikan Sekretaris DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Irfan Gani. Foke dinilai sudah tidak layak karena kinerjanya yang dinilai buruk selama memimpin Provinsi DKI Jakarta.
“Ada kekacauan. Pertama, janji dari ahli untuk bangun Jakarta saya pikir nol besar, karena branding yang dikemas bersama itu tidak terealisir sama sekali hingga sekarang,” ujar Irfan.
Selain itu, DPD Partai Demokrat melihat Foke selama empat tahun belakangan ini tidak dapat menunjukkan nilai leadership sebagai top executive di Jakarta. Alasan ini yang kemudian menurut Irfan membuat dukungan berkurang dan lama kelamaan menghilang.
Sementara dari Golkar berencana berpindah hati ke Prya Ramadhani yang saat ini menjabat sebagai ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta. Prya dianggap mampu memenuhi lima kriteria yang harusnya dipenuhi setiap kepala daerah.
“Pemimpin yang akan datang selain harus memiliki kemampuan dan keberanian, pertama harus komitmen untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Ini yang paling penting,” ujar Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta Ashraf Ali.
Kemudian yang kedua, tambah Ashraf, seorang pemimpin harus mampu berkoordinasi dengan baik kepada sektor dan instansi terkait sehingga tidak terjadi polemik. Ketiga, seorang pemimpin harus memiliki kepribadian baik, mau mendengar aspirasi masyarakat, turun ke bawah dan membantu yang lemah.
Lalu yang keempat, punya kecerdasan, karena Jakarta masyarakatnya sangat heterogen, serta memiliki keberanian dan tanggung jawab dan ketegasan. “Dari kriteria itu mayoritas ada pada Prya Ramadhani,” tegasnya.
Hingga kini, Partai Golkar sendiri belum secara resmi mengumumkan pencalonan Prya menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Menurut Ashraf, hal itu disebabkan penyelenggaraan Pemilukada yang masih 1,5 tahun lagi.
Ketika ditanya, apakah Ketua DPD Golkar DKI Prya Ramadhani layak dicalonkan, Ashraf Ali secara diplomatis mengatakan bahwa Prya Ramadhani sudah banyak dikenal masyarakat luas. “Siapa yang yang tidak kenal pak Prya, masyarakat luas sudah mengenalnya,” ucap Ashraf Ali.
Sementara itu, Partai Demokrat secara terang-terangan akan mencalonkan Ketua Umum DPD Partai Demokrat DKI Jakarta H Nachrowi Ramli sebagai Gubernur DKI Jakarta mendatang.
“Partai Demokrat sudah memutuskan, berdasarkan hasil Musda bahwa yang akan dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta adalah H Nachrowi Ramli,” kata Sekjen DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Irfan Gani.
Menurutnya, H Nachrowi Ramli layak memimpin DKI Jakarta mendatang sebab sebagai figur maupun program-program yang dicanangkan sangat layak dicalonkan, bahkan sudah sangat dikenal masyarakat secara luas.
“Itu juga diperkuat dengan hasil survey. Yang jelas, kita butuh pemimpin baru di Jakarta untuk memperbaiki Jakarta secara keseluruhan,” imbuh Irfan.
Pengamat Kebijakan Publik Amir Hamzah justru menyangsikan keseriusan Partai Demokrat yang mencalonkan H Nachrawi Ramli sebagai calon gubernur mendatang. Sebab Fauzi Bowo juga sama-sama dari Partai Demokrat.
“Karena itu, cara pendekatanya tak bisa dengan menyalahkan Fauzi Bowo yang dianggap belum berhasil membangun Jakarta. Harus dibangun cara-cara politik yang santun,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai Gubernur DKI Jakarta perlu dari calon independen. Sebab berdasarkan data yang ada ternyata 80 persen masyarakat Jakarta merupakan massa mengambang yang tidak fanatik dengan partai tertentu.
“Jumlah besar suara itu sangat liar. Karena itu, harus ada calon dari jalur independen yang dimunculkan untuk membangun Jakarta ini,” ujarnya.
Hal berbeda dari pilkada sebelumnya dilakukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memastikan diri akan mengusung calon internal dalam putaran Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta 2012.
Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2007, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mencalonkan Fauzi Bowo yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta saat ini. Kepastian sikap PDI-P tersebut diutarakan Ketua DPD PDI-P DKI Jakarta Sayogo Hendro Subroto.
“Sudah muncul beberapa nama. Kami akan menyerap aspirasi dari bawah. Kami memastikan akan mengusung kader sendiri,” ujar Sayogo.
Menurut Sayogo, dari beberapa nama yang muncul tersebut, salah satunya adalah Wakil Bupati Tangerang Rano Karno. Namun, hal itu akan dikonsolidasikan secara internal kemudian semoga saja sudah ada nama resminya dalam rakerda nanti.
Rakerda PDI-P DKI Jakarta diperkirakan akan berlangsung pada Juni 2011. Pada saat itu, setiap cabang dan ranting akan mengajukan kandidat yang dijagokan dalam Pilkada 2012.
Meski akan mengajukan calon dari kalangan internal, Sayogo menjelaskan, PDI-P tidak menutup kemungkinan calon tersebut akan dicalonkan sebagai calon wakil gubernur, bukan calon gubernur. Hal tersebut mengingat suara PDI-P di Jakarta tidak terlalu signifikan.
“Itu bisa jadi salah satu kemungkinannya, tetapi adanya koalisi dengan partai lain tetap terbuka bagi PDI-P,” kata Sayogo.
Selain itu, alasan PDI-P tidak lagi mencalonkan Fauzi Bowo dalam Pilkada 2012 adalah banyaknya keluhan masyarakat akan berbagai program yang tidak jelas penyelesaiannya.
“Coba tanya apa puas dengan Jakarta yang macet? Dari situ saja sudah mudah ditebak,” tuturnya.
Dia menilai pemerintah saat ini tidak memiliki komunikasi yang baik dengan warganya sehingga tiap kali membuat kebijakan selalu ditentang karena sosialisasi tidak berjalan baik.
“Selain itu, prioritas. Untuk mengatasi macet, apakah harus membatasi kendaraan atau membangun jalan, ya kan? Apa membangun jalan itu solusinya? Coba dijawab sendiri sekarang Jakarta bagaimana,” ujar Sayogo.
Calon gubernur dari parpol besar punya peluang besar menang di Pilkada DKI 2012. Penilaian itu berdasarkan persentase jumlah massa parpol besar di Jakarta dan hasil Pemilu 2009. Parpol yang dimaksud adalah Demokrat dan PKS.
“Demokrat punya massa 30 persen, sedangkan PKS antara 12 hingga 16 persen,” kata Direktur Riset Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya kepada wartawan, di Jakarta. Tapi, tidak menutup kemungkinan partai kecil memenangi pilkada DKI. Hal itu dikarenakan faktor tingkat kecerdasan masyarakat Jakarta.
“Yang pasti, siapapun calon yang memiliki anti-tesa atau bisa menjawab kegagalan Foke, punya kans besar menang di pilgub. Hal ini berdasarkan tingkat kekecewaan masyarakat terhadap kinerja incumbent seperti macet dan banjir.” papar Yunarto.
Filed under: Berita imediacyber.com Ditandai: | banyak, bursa, calon, gubernur dki jakarta, makin, peminat